Rabu, 09 Maret 2016

Tak apa jika ini kau sebut sastra curhat, karena pada dasarnya memang begitu.



SYALALA

Desah suara angin kembali membasahiku dalam pekat malamku
Jendela kamarku masih tetap sama mama
Masih terlihat anak-anak bermain petak umpet bertukar tawa
Tapi kemana perginya punya kita mama?
Kemana lagu syalala yang kemarin memenuhi istana kita
Rintik air langit menggelitik segenap pilu yang tersungkur
Ruangan ini masih persis dimasa kecilku papa
Masih terpampang potret gadis kecil bertopi lucu setengah menangis takut kamera
Tapi kemana berlalunya milik kita papa?
Kemana aku harus mencari lagu syalala kita
Bulan di atas halaman rumah memburuku dengan senyum elok mengejek
Tempat ini masih bertabur rumput hijau yang kita tanam bersama
Masih tumbuh subur bunga kamboja di pojok kanopi berwajah bata
Tapi kemana perginya langkahmu papa?
Papa menghilang bersama malam berteman suara burung bermata besar
Kali ini angin yang memeluk tubuhku erat barangkali membawa berita penawar pilu
Istana kita masih belum rata dengan tanah mama
Masih terdengar suara anak-anak bermain congklak di ruang tengah
Tapi kemana perginya mama?
Mama menghilang bersama pangeran dengan cambuk kepedihan
Lalu kemana lagu syalala kita?
Aku dan  anak-anak itu mengitari rumah mencari sisa  melodi kita yang tak bernyawa


Aya El-Khumairah
Bersama deru suara kipas angin, teruntuk mereka yang tak lagi bersama, 301015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar